Ebook cerpen seragam

yeeey! Ebook Seragam udah terbit.

Filosofi:

Anis gadis manis yang menyayangi kedua orang tuanya, anis sendiri pun belum tahu sepenuhnya tentang kepribadian sang ayah yang mengidap penyakit Psychopath.

Ayah pandai manipulasi kebahagiaan menjadi amarah. Amarah yang seketika menjadi tamparan atau tendangan berlabuh di tubuh anak semata wayangnya.

Tiara satu-satunya sahabat yang anis miliki, mereka menjalani persahabatan cukup lama cukup baik. Setebal apapun tali persahabatan mereka. Ajal yang sanggup memutuskannya. 

Harga Rp.17.000 

Penulis. Faisal fajri

kapasitas. 334 kb

terbit. 9 Nov 2017

format. pdf

halaman. 18 hal

ukuran. A4

bahasa. indonesia

CARA ORDER kontak via WhatsApp ke nomor 083895903582

#ebook #cerpen #novel #horor #persahabatan​

Iklan

Pulpen terbang

Kutipan moril; jangan percaya dengan barang mistik. Satu hal yang bisa melongsorkan kepercayaan kepada sang pencipta. Tanpa itu kamu lebih terlihat manusiawi. 
“eh pay sini deh.” panggil rojak sembari melambai-lambai tangannya. 
“apan si jak?!” tanya paih seraya berjalan menuju rojak yang lagi ngaso di bangku kantin.
Nggak ada hitungan menit, paih. cwo perawakan jangkung itu duduk berhadapan dengan rojak.
“pay, lu liat ini pulpen kan?!” tanya rojak sambil mengangkat pulpen hitamnya tepat di muka yang ada dihadapannya.
“bodoh, yaiyalah pulpen. Siapa bilang celengan ayam.” dan gelak tawa meramaikan suasana disitu.
Lamat-lamat gelak-tawa pulang menghilang. Wajah rojak berubah drastis menjadi serius.
“Gini pay. Ini pulpen, pulpen ajaib.” penegasan rojak sambil memilin pulpen hitamnya.
“pulpen ajaib maksudnya gimana?!” pay bingung. sebingung bingungnya orang bingung.
“pulpen ini bisa membuat orang terbang, semacam kayak baling-baling bambu milik doraemon.” kata rojak meyakinkan.
Pay mengerinyit. Tatapannya tertumbuk ke pulpen yang digenggaman rojak seakan nggak ingin rojak lepaskan.
“coba buktiin, kalo pulpen loe bisa terbang.” kata pay setengah percaya.
Rojak langsung beringsut ketepi bangku kemudian berdiri dengan tegap. Tangan kananya yang menggengam pulpen hitam itu di angkat tinggi-tinggi seolah menembus sekumpulan awan di siang yang terik. Seiring kelopak matanya tertutup rapat, mulutnya yang kering nggak henti bergemi merapalkan mantera.
Pay yang menyaksikan adegan itu hanya terdiam, membisu. nggak ingin mengganggu konsentrasi 

Teman sebayanya.
Setelah usai merapal mantera, tiba-tiba mata rojak mendelik. Lempar pandang kearah yang ada di hadapannya. Pay berigidik.
Kemudian rojak mengangkat dagunya. Tangan kanan masih menghunus kelangit. Rojak mengambil aba-aba.
Satu…
Dua…
Tiga…
TERBAAAANG!!!
Pay membelalak. Matanya Mengerling. Debar jantungnya nggak menentu, nafasnya terhenti sesaat. Pay mulai cemas. 

Pay celingak-celinguk menatap keatas gedung sekolah dan bahkan melongok di bawah meja segi empat. Nggak ada nggak ketemu.  
“rojaaaaak dimana loe?!.” pay membuat kerucut dengan tangannya. 
“ada dihadapan loe pay.” rojak meringis tersipu malu usahanya gagal. 
“gue pikir loe udah terbang kali.” kata pay jawab seenaknya.
“gue butuh momen, biar bisa terbang.” rojak merunduk, mantap lurus kearah pulpen yang terhimpit dengan jemari.
“bodoh, ga ada pulpen yang bisa bikin orang terbang.” ucap pay dengan nada tinggi seraya

Meninggalkan rojak yang terpaku di depan meja kantin.
                              ***
Keesokan harinya.
Setelah pulang sekolah Rojak berjalan lenggang menyusuri koridor seiring murid-murid berhamburan keluar kelas. Pikiran rojak berkelana mencari tempat dan momen yang tepat untuk membuktikan kalo pulpen hitamnya sanggup membawa ia terbang, melayang.
Langkah rojak terhenti di depan kendaraan roda dua yang terparkir di perkarangan sekolah. Pikirannya terbelesit seakan mendapatkan ide cemerlang tentang momen untuk pulpen ajaibnya itu. “yah, bukit sakti.” gumamnya.
Bukit sakti nggak begitu jauh jaraknya dari gedung sekolah. Bukitnya terjal, curam dan banyak Bebatuan tajam, runcing bak ujung tombak yang tertancap didasar permukaan jurang.
Dengan sepeda motor berwarna hitam metalik rojak melaju menyusuri jalan raya. Debu-debu terbang kearahnya tersapu angin panas. sesekali rojak berpeluh menghapus Bulir-bulir yang tersembul di kerutan kening.
Selang dua puluh rojak sudah sampai di bawah kaki bukit sakti. Lantas Pandangan rojak lurus mengarah jalan setapak. Rojak menekan pegas, suara deru mesin kendaran roda meramaikan suasana. Ia menerobos masuk membelah kesunyian bukit sakti. Tubuhnya yang tambun lincah menjaga keseimbangan. 
Sesampainya diatas puncak bukit sakti. Rojak melongok ke bawah jurang dari atas ketinggian. Kakinya kaku tertancap di tepi jurang, rojak menarik nafas dalam-dalam dan mendorong keluar dengan kuat untuk menenangkan dirinya. Ketika kakinya merasa lebih santai. Ia pun terjun kedalam jurang hingga suaranya tak terdengar lagi. Begitu cepat, begitu dalam. 
Satu menit, dua menit. suaranya masih belum terdengar
Sejam, dua jam. Suaranya masih belum terdengar.
Sebulan, dua bulan. Mayat rojak di temukan sudah membusuk bersama pulpen hitamnya. 
Sekian.​

love the little girl

 

Mereka nyebutnya gang argabel karna hanya muat kendaraan roda dua dan kalau ada kendaraan dari arah berlawanan. Salah satunya harus mengalah. menarik pegas rem dan memiringkan kendaran mereka. Agar salah satunya dapat berjalan dengan lancar.

Gang itu panjang dan nggak terlalu lurus ada jalur akses menanjak keatas terobosan langsung kejalan raya. dipertengahan gang ada pertigaan sebiasanya ibu siti menjejer dagangannya disitu. 

Novil. anak dari ibu siti.  Gadis lugu dan terkenal periang di lingkungannya. Novy baru berumur tujuh tahun. Tinggal di rumah berukuran dua petak. Dia tinggal bersama ibu semata wayang. Ayahnya meninggal sejak novi masih di dalam kandungan. Bu siti ibu dari novy. Sehari-hari beliau berdagang di pertigaan gang. Setiap pagi menjelang beliau Menjejer kue yang beliau kelola sendiri.

“ibu, aku berangkat skolah dulu ya.” ucap novy dengan nada riang seraya mencium tangan ibunya.
“hati-hati ya sayang” tukas ibu siti

Tap…tap…tap suara langkah Novy menyusuri gang yang tak begitu besar. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari para pejalan kaki dan terkadang kendaraan roda dua yang berlalu lalang.  

Jarak sekolah memang nggak begitu jauh, hanya butuh lima menit gadis lugu itu sampai di sekolah.
Novy juga memiliki sahabat baik. Syifa anak dari bu sumintri sekaligus walikelas novy. Sebiasanya jika ibu siti sibuk membikin kue untuk berdagang. Novy sering di titipkan kepada walikelasnya itu.

Lima menit terlewat pesat bagai roket. Novy sudah duduk manis semanis wajahnya yang manis. Di dalam kelas cuma beberapa murid yang baru hadir. “Tumben syifa belum datang” gumamnya.

Syifa memang teman sebangku sejak mereka kelas 1 SDN. hati kecilnya novy terasa nggak enak. Dia berharap nggak ingin menerima kabar buruk tentang syifa.
Satu persatu murid-murid yang tadi belum datang sekarang sudah mengisi bangku kelas dalam waktu yang tak menentu. Jam dinding terpatri di depan kelas. Menunjukan pukul 07:00. Bell sekolah melengking tajam di daun telinga yang masih muda.

“Ya’tuhan kenapa dengan syifa? semoga nggak terjadi apa-apa.” gumamnya sekaligus harapannya dalam batin.

Novy mencoba menguatkan hatinya yang rapuh. Dia tahu pasti akan mendengar kabar buruk dari walikelasnya.

Gemelutuk sepatu Bu sumintri memasuki ruangan kelas. Murid-murid yang ada di area kelas  menyambutnya dengan suka cita, Tetapi beda dengan novy, dia memasang wajah penuh keresahan. Kecemasan.  
Setelah usai menyambut walikelas. Suara sepatu novy terdengar lagi. Tap…tap…tap novy menuju meja guru. Sesampainya disana novy terpekur, gadis mungil itu siapa mendengar jawaban yang akan dia tanyakan.

“bu syifa kok nggak masuk?!” tanya novy dengan nada pilu.

“syifa sakit nak” DEEG!!! Jantung novy berdegup cepat. Harapannya ga sesuai yang dia harapankan. 
“Ya’tuhan sakit apa bu?!” raut wajah novy semakin cemas. 

“demam sayang, pulang sekolah kita jenguk syifa ya.” novy mengangguk. mendengar pernyataan itu novy bergegas berjalan kebangku dan pelajaran dimulai

                                ***

Langit biru membentang luas, cahaya matahari mencoba menerobos masuk kesela-sela jendela. Seiring bel pelajaran terakhir melenguh panjang. 
“ibu novy pulang” ucap novy dengan nada riang yang berada di depan pintu.

Mendengar suara buah hatinya, beliau Langsung menghentikan pekerjaan yang sedari tadi membuat adonan kue. kemudian beliau berjalan menuju kedepan pintu dan menyambut buah hatinya dengan suka-cita.  

“eh, anak ibu udah pulang, tumben nggak main kerumah syifa?!” sepontan beliau mengangkat tubuh novy dan membawanya kedalam ruang tengah.

“syifa sakit bu” ucap novy dengan nada rendah.

“kamu nggak ngejenguk syifa, sayang?” tanya bu siti seraya menurunkan novy dari gendongannya.

“nanti sore aja bu, biar syifa istirahat dulu” jawab novy yang duduk di kursi meja makan. 
“Aiiih… anak ibu pengertian banget.” tutur ibu siti seraya mencium bertubi-tubi buah hatinya. Seakan puluhan tahun nggak bertemu. 
“bu boleh ya? aku bantuin bikin kue” tanya novy sembari mengaduk-aduk adonan kue yang ada dialtar meja. 

“ihhhh, anak ibu gaya. Emang kamu bisa?!”
“kan ada ibu. yang ngajarin aku bikin kue mancur.

“kue cucur. Sayang bukannya kue mancur”
Dan gelak-tawa terdengar diruangan tengah. Ponsel yang tadi beliau taruh di meja ruangan tamu, berdering. Kriiiiiingg! Beliau berjalan menuju keruangan tamu. Meninggalkan anak semata-wayang. Sesampai di situ beliau mengangkat ponsel yang masih berdering.  

“halo, bu siti?!” ucap si penelpon dan ternyata ibu sumintri walikelas novy.
“ada apa bu?!” tanya ibu siti

“ma’af ya, bu. saya belum bisa mengantar novy pulang.”
“maksud ibu apa?! jangan bercanda deh!” ibu siti memang mengenal walikelas novy gemar bercanda. 
“loh, kok bercanda. Itu novy lagi ngejenguk anak saya. novy sayang. sini nak, ibu kamu mau ngomong”

“bu, klo novy udah pulang. nanti novy bantuin bikin kue mancur” DEG!!! Mendengar suara anaknya di tempat yang berbeda. Beliau menutup mulut yang menganga dan alat yang beliau genggam jatuh diruang tamu. 
“bu, aku ingin bantu ibu bikin kue” Suara novy terdengar lagi di ruangan tengah. Suara mirip buah hatinya. Beliau nggak berani menoleh kebelakang dan terpaku di ruang tamu. Sambil mengusap pundak yang mulai merinding. Jiwanya terkoyak kedua kakinya kaku. “Ya’tuhan, novy ada dua pertanda apa dengan anakku” 
Tap… Tap… tap terdengar  suara langkah kaki  novy memecahkan kesunyian menuju bunda tercintanya. Tepat berhenti di belakangnya.

“aku ingin bantu ibu.” DEG! Jantung beliau berdegup cepat. Perlahan-lahan beliau memberanikan dirinya menoleh kearah belakang. HENING! HILANG! Novy nggak ada di belakang beliau nggak melihat lagi gadis lugu yang senantiasa menemaninya. Sendi-sendi ibu siti mengendur tubuhnya tersungkur.
Selang lima belas menit kemudian.

Novy. Anakku novy, beliau sadar ingin mencari tahu keadaan anaknya sekarang. Beliau berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya. Lalu meraih ponsel yang tergolek disampingnya untuk menghubungi walikelas novy.

“bu, saya saja menjemput novy” ucap bu siti dengan nada tergesah-gesah. 

“saya yang harus menjemput, ibu sekarang.” bu sumintri terisak.

“maksud ibu apa?!” ibu siti mencengkram ponselnya kuat-kuat.

“Ma’af ya bu, novy kecelakan sewaktu diantar pulang naik motor dengan ponakan saya” bu sumintri terisak suaranya terbata-bata.

“APAAAAA!!! Gimana keadaan anak saya sekarang bu?” Suara bu siti histeris, bibirnya menggigil.

“ibu yang tabah ya, ini cobaan dari maha kuasa. Novy sudah dipanggil sang pencipta”
dibawah lampu gantung yang meredup dan tertiup angin panas yang menyulut jiwanya, ibu siti, ibu tercinta novy terbanting di ruang utama.

Di penghujung gang ARGABEL

Di gang yang tak begitu semarak, di gang penuh coretan abstrak. Di gang itu cintanya tergeletak. Tak bisa mengelak, pasrah terinjak kenangan yang congkak. 


Di penghujung harapan semu. Ia menunggu kepastian yang dulu. Dahulu dia mengingatkan kalau cinta itu bukan suatu hal yang di rasa tetapi apa yang di terima. 

Wanita itu, wanita bermata bulat kecoklat-coklatan, wanita berkulit terang. Wanita berparas berseri-seri dan rambut hitam mengkilat di pangkas sebahu. 

“Ah, ingatan itu menyeretku lagi”

Sudah lama ia mengenalnya, sudah lama pula ia…

Ia menahan ucapan, tak pantas! Sepagi ini menggali kenangan yang terkubur di dalam liang harapan.

Namun, kenangan itu bak mayat hidup keluar dari dalam kubur memaksa untuk mengingat janji yang sudah melebur. 

Ia menerawang jauh, sesekali menyeruput teh hangat di dalam cangkir, ia pikir cinta tak mungkin berakhir. tapi takdir punya rencana lain, cinta yang menyingkir, kan ada pula cinta yang hadir.
Asap putih masih mengepul di atas cankir. Hawa panas ibarat rindu yang tak pernah tuntas.
Ia rindu dengan wanita yang memiliki bola mata coklat bulat sempurna. Yah, elin. Namanya yang sering ia panggil kala dulu. Ketika cinta masih bersahabat dengan mereka.

“Andai saja cinta dan rindu tidak di sepakatkan oleh tangan pertemuan, mungkin aku ga ingin bertemu dengannya lagi” di bangku kayu itu ia mulai berimajinasi. Sembari menunggu ponsel berdering. 

Pikiranya berkelana jauh mengulang semua rasa sakit yang tak terbayang di dalam cerita.

Ia mengangkat dagu mentap ke atas langit, Awan putih berlarian tersapu angin dari barat. Di gantikan awan hitam gelap pekat mengerubung jadi satu menutupi semburat cahaya mentari. Suara guntur terdengar dari arah ke jauhan.

Kilat menyambuk awan putih menjadi potongan-potongan kecil yang kekeh tak ingin pergi.  

Tak selang beberapa lama, gerimis tiris mulai turun. Membasahi perkarangan rumah yang tak begitu mewah. angin menampar dedaunan hingga mendesis lirih. 
“Walaupun hujan turun. Tetap saja rindu ini tetap kering dan tandus” gumamnya seraya ia beringsut dari tempat duduknya. Ia berdiri tepat di depan teras rumah, tangan kirinya mengenadah merasakan rinai hujan yang jatuh. Hujan dan cinta mungkin saudara kembar keduanya bisa membuat kesejukan. 
“Kriiing” ponsel yang ia taruh di saku clana jeans melenguh. Bergegaslah ia mengangkatnya. 

“Aku di beranda stasiun, tolong jemput aku”

“Ya!”
Sesimpel itu ia berbicara, tetapi mempunyai makna panjang yang tak mungkin sanggup ia ukur seorang diri. Ia melangkah di awalin kaki kiri kemudian di susul dengan kaki kanan. Ia menyusuri gang yang tak begitu besar, tubuhnya meliak-meliuk menghindari orang-orang yang berlarian. Memang tak begitu jauh Jarak stasiun dari rumahnya. Cuma memakan waktu lima belas menit.  

Hujan semakin deras ia menghalau hujan dengan payung rindu yang kasat mata. Ia terus menyusuri gang yang penuh coretan abstrak. Bahwasanya gang yang ia lalu ada trobosan langsung menuju stasiun.
Ia memincingkan tatapannya memandang lurus. Dari arah kejauhan ia melihat ada yang berlalulalang menerobos hujan, ada pun yang meneduh dengan wajah jenuh. di tingkahi hujan yang semakin gaduh.
Di depan gang matanya membola, mencari elin, kedua tangan mendekap tubuhnya yang menggigil. Dingin. Ia memperhatikan satu persatu wajah-wajah jenuh itu.

“Hey aku disini” 

Suara terikakan nyaring meling tidak asing di telinganya, suara yang sering ia dengar, Suara pengobral seribu janji, Asal suara terdengar di pojok loket karcis. Seketika Ia memalingkan padangannya kearah elin berdiri menyilangkan tangannya mendekap tas berwarna hitam pekat.  
Elin melekukkan bibir terlumur gincu merah puyas. Di dirinya semua masih sama tak ada yang berubah, ia melepar senyum sumringah, rindu yang sedari mengembang kini telah pecah.
“Ga ada yang berubah ya, dari kamu?!” elin membuka percakapan lebih dulu. 
“Iya, semuanya masih sama. ga ada yang berbeda termasuk cinta.”

“Apa cinta?!”

“Iya, aku tau kamu ga mungkin menarik cinta, cinta yang bersanding di hatiku”

Elin diam membisu seribu bahasa, menahan ucapan yang mewakili curahan hatinya.
“Kenapa diam?! Ayuk kita pulang, kita lanjutkan obrolan di rumah”
Elin mengangguk isarat tubuh mengiyakan ajakannya. Mereka berjalan beriringan, hati kecilnya masih menyimpan sesuatu yang ingin elin ledakan.
Hujan deras telah pergi, gerimis tiris serupa salju jatuh perlahan kedahan pohon yang tertanam di samping gang. Mereka berjalan sejajar ketika satu langkah lagi memasuki gang namun.

“Tunggu!” elin menarik pergelangan pria yang kuyup itu.

Mereka berhadapan sekarang tepat di samping gang di bawah pepohonan rindang.

Seketika Airmata elin berkaca-kaca, ia berupaya membendung airmata yang ingin meleleh di pipi. Tanpa aba-aba Elin memeluk dengan tangan yang lemah, Tangisan elin pecah di dalam pelukan. Hati kecil elin terisis mengingat janji yang belum elin gubris.
“Aku mengingkari janji, aku minta ma’af” air mata elin membasahi kemeja corak bergaris-garis.

“Cinta itu suci, aku ga ingin mengotori cinta dengan dendam, aku mema’afkan mu”

Mendengar ucapan itu Elin melepaskan dekapan, melepas pelukan. Elin mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

“Kamu sanggup menjemput cinta yang ku berikan, tapi?!”
Elin menahan ucapannya bibir yang di poles gincu mengigil. Air mata kembali melelah entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah di tanah.

“Tapi apa?! Katakan elin, aku siap menerima takdir yang tuhan berikan”

Elin menarik nafas dalam-dalam. Sesak dan menghembuskannya ke udara.
“Aku pernah bilang, kalau cinta itu bukan suatu hal yang di rasa tetapi apa yang sudah di terima ”

“Aku pergi”
Mereka pergi meninggalkan cinta yang tergeletak di depan gang. Mereka tak sanggup mengelak tergilas kenangan yang congkak. 

Rojak bujang jauh

Rojak. seorang bujang yang baru di terima kerja bagian farmasi. Siang itu, ia baru pulang interviw denganlincah ia mengendarai kendaraan roda dua.

Namun, petaka gak bisa terelakkan. Motor yang ia kendarai oleng. Hingga menabrak mobil truk dari arah

berlawanan. Craaaassss!. Motornya ringsek hampir rata dengan tanah.

Yang lebih na’asnya lagi. Perut rojak tergilas roda truk yang penuh muatan pasir. Kemeja putih yang ia

kenakan bercak jejak roda menggiling bagian perut. Cuma hitungan menit rojak terbangun langsung lari

kewarung pinggir jalan.

Sontak yang melihat tragedi itu terheran-heran. Si punya warung langsung memberi segelas air putih untuk

meredam debar jantungnya.

Peristiwa itu sudah lewat berhari-hari guys, rojak melewati hari seperti biasa tanpa Merasakan rasa sakit

sedikit pun. Ehm! *mungkin cuma layli yang bisa membuat rasa sakit di hatinya*

Bahkan rojak yang baru kerja bikin iri pada rekan kerjanya sebab. Rojak langsung naik jabatan, waktu itu

bosnya bertanya. “motornya kemana?” rojak menjawab  digiles mobil truk” peristiwa itu di ceritakan

lagi oleh rojak. Bosnya menggeleng-gelengkan kepalanya terheran-heran. “ajaib!! Pasti nih anak titisan

limbad!” kata bosnya.

Nah, awalnya doi gak merasakan sakit sedikit pun. Pasca kejadian itu lewat seminggu. Doi baru merasa

mual, nyeri, nyut-nyutan. Di bagian perut. Kadang dia menggeram hebat sambil memegang perutnya. Di

iringi muntah-muntah gitu lah. Pkoknya kesehatan rojak nge-drop abissss…

Suatu hari rojak di temukan pingsan di kamar. Sontak dong, ibunya kaget!!!. Ngeliat rojak ga berdaya gitu. Ga

pake mikir. beliau Langsung ngebawa anak semata mayangnya ke RS. Sesampainya di radiologi RS. Doi di

ronsen tuh guys, tepat di bagian perut yang kerasa sakit.

Lalu apa yang terjadi setelah hasilnya terlihat?.

Hasilnya membuat dokter yang menanganinya tercengang sejadi-jadinya.

Isi perut rojak udah hancur. Ginjalnya pecah. Lambungnya rusak parah. Bahkan ususnya udah menghitam

karna pembusukan itu. MENGERIKAN!!

Kalo oprasi tidak di lakukan rojak akan tewas”kata dokter

Sebulan kemudian…

Udah seminggu ini rojak bisa melakukan aktivitas. Tapi lagi-lagi petaka itu dateng. Rasa sakit dua kali lipat

dari sebelumnya. Membuat doi langsung tersungkur pingsan. Doi langsung di angkut ke RS.

Setelah di ronsen. Lagi-lagi hasilnya mengejutkan guys, isi perut doi malah makin parah pembusukannya.

Sontak rojak shock dong kedua kalinya.

“Kerusakannya terlalu parah. Ini sama seperti kasus luka di kaki pada penderita diabetes. Solusinya

amputasi. Itu tak mungkin kita lakukan …jika kerusakannya ada di area perut. Saya benar-benar tidak paham.

Belum pernah saya menjumpai infeksi separah ini pada organ dalam.” Kata dokter.

Operasi kedua bahkan ketiga kalinya di jalankan staf dokter tapi hasilnya nihil. Kondisi rojak semakin hari

semakin memperhatinkan. Kerjanya setiap hari cuma merintih dan merintih. Kesakitan.

Entah apa dosanya sampe di beri cobaan seberat itu.

“bu…sakit bu, mending rojak di panggil tuhan aja. Daripada sakit kayak gini” rojak terbaring di ruang ICU.

ibunya nangis mendengar omongan anaknya kayak gitu. “rojak, coba kamu Inget-ingat. kamu pernah

ngelakuin dosa apa? Mungkin bisa membantu kesembuhan mu.” rojak diam. Gak Inget sama sekali. Lagi-lagi

dia hanya merintih. Sepanjang waktu yang dia lewatkan hanya syakaratulmaut.

Dalam kondisi seperti itu di jabut nyawa bakalan seribu lebih baik dari pada bertahan. Tapi tuhan gak mengizinkan. Rojak di biarkan tersiksa.

3 hari kemudian, rojak masih bertahan, guys. Bertahan dalam kesakitan yang ga bisa dijelasin sama kata-kata. Semua keluarganya berkumpul disitu. Tiap hari mereka memanjatkan doa buat rojak Bukan buat kesembuhannya, melainkan buat meminta izin-Nya supaya ia berpulang dengan tenang. Ini manusiawi, guys.

Siapa yg tega melihat orang yang kita sayangi tersiksa sepanjang hari? Begitulah kondisi rojak.

Singkat cerita, suatu hari keluarga rojak sepakat untuk menyuntik mati rojak (euthanasia), dan rojak pun setuju.

Tapi apa yg terjadi? Racun pembunuh itu ga bekerja sama sekali. Rojak malah dibuat semakin kesakitan.

Sontak dong, semuanya dibuat kaget. Ga terkecuali dokter sama perawat. Semua dibikin ga percaya sama apa yang mereka lihat. Selama berjam-jam rojak dibuat makin kesakitan. Kasihan… Ini pasti ada yg ga beres.

Apa yang pernah dilakuin rojak sampe harus mendapat hukuman seperti itu, padahal dia anak baik-baik? Ga ada yg tahu.

Nah, beberapa jam kemudian, ketika doa2 masih terpanjat buat rojak datanglah teman lama rojak menjenguknya. Dia didampingi seseorang. Namanya pay. Dia ditemenin sama orang yang udah cukup uzur.

Orang tua itu mendekati rojak berbaring di ruang ICU “rojak, masih ingat bapak?” Tanyanya. Rojak

menggelengkan kepalanya. Dia masih merintih hebat. “Maafkan kehadiran saya jika menganggu bapak dan

ibu-ibu semuanya…” Kata org itu lg. “6 tahun lalu, rojak pernah mendatangi saya untuk memasangkan susuk

di tubuhnya. Mungin ini yg membuatnya menderita seperti ini…” sekarang saya akan melepas susuknya.

Mudah-mudahan ini akan mengakhiri penderitaan rojak.” Katanya lagi. Ibunya rojak bengong.

“Susuk? Buat apa anak saya pasang susuk, pak?” Tanya ibunya rojak. “Dulu rojak suka ikut balapan liar, bu.

Saya yang mengantarnya.” Jwb temen rojak “Astaghfirullah.. Betul itu, rojak?” Tanya ibunya. Rojak

mengangguk. Akhirnya dia ingat semuanya. Rojak pun menangis kerung. Ga mau buang waktu, orang tua itu

mengambil posisi. Dia mengelus-ngelus perut rojak perlahan. Mulutnya komat kamit, seperti membacakan

mantera. Semua yang menyaksikan adegan itu terlihat tegang. Apa ini akan berhasil? Benarkah susuk itupenyebab penderitaan rojak

Orang tua itu terlihat seperti mencabut sesuatu dari perut dan kepala rojak. Dua kali. Mungkin susuk kebal yang

di maksud. “Bapak sudah mencabut semua susukmu. Kamu beristirahatlah dgn tenang.” Tutup orang tua itu.

Dia mengelus dahi rojak. Trnyata benar. Ga kurang dari 40 detik kemudian, rojak pun meregang nyawa. Berkat

orang tua itu, akhirnya rojak menghebuskan nafasnya yang terakhir. Penderitaan rojak berakhir. Kepergiannya

tentu aja disambut isak tangis semua orang. Mudah-mudahan semua dosa-dosanya di ampuni. Amiin…–end

Pesan moral: Susuk ternyata lebih berbahaya dari operasi plastik. Tapi jauhi keduanya. Tanpa susuk & plastik, kamu lebih manusiawi. 

Rumah teratai part4

Aly ngambil aba-aba mundur beberapa langkah, langsung lari ke ruang utama. Sesampainya disana dia merebahkan tubuhnya tengkurap. sesekali kepalanya ditutup bantal, matanya terpejam. Tapi selang beberapa sa’at suara aneh itu hilang, tak terdengar lagi. Perasaan aly agak tenang dan dia pun tertidur yang kedua kalinya. 

Part4…

Pagi hari..kukuruyuk! Ayam jantan tetangga melenguh. 

aly terbelalak matanya mentatap langit-langit yang dihiasi lampu panjang membentang diatas atap. Nafasnya memacu cepat, debar jantung berdegup hebat. “Astaga! mimpi itu” umpatnya. Posisi aly duduk sekarang, dia mengambil air mineral setengah botol yang bekas dia minum semalam. Glek~glek Air mineral di minum lagi untuk meredam perasaan yang di tingkahi mimpi.

Mimpi na’as itu memutar rekaman yang masih terselipi di memory ingatan, tiba-tiba airmata aly menetes Tangisan pun hening, jiwanya bergejolak bibirnya bergetar. “Ya’tuhan, semoga takdir yang kau takdirkan hanya kau anugrahi untuk gadis lugu itu” Aly memanjatkan doa. telapak tangan menyibak airmata yang meleleh.

Aly berjalan gontai kearah kamar pembantu dengan kepala setengah merunduk. Kali ini Yang dia rasakan bukan suasana seram atau mencekam melainkan rasa haru yang berkecamuk.
Sesampainya disana aly termagu dimuka pintu, dia menatap kaos yang sering gadis itu kenakan. Matanya berkaca-kaca menahan airmata yang mengembang, Bibirnya bergetar. Aly langusng merengsek masuk, jemarinya mengambil kaos yang menggantung. 

kaos gadis itu  dibenamkan tepat didadanya, airmata mulai pecah isak tangis mengisi ruang yang sunyi. kepalanya merunduk, sesekali menggeleng-gelengkan kepala menandakan tak sanggup apa yang di rasakan dalam mimpi itu.

“Kejam, sungguh kejam” gumamnya dia berjalan lagi tuh, kearah gudang yang ada dibelakang rumah. sesampainya disana dia, mengambil pacul yang terhimpit barang-barang bekas. Di depan gudang dia terpekur seraya memejamkan matanya mengingat ulang pesan yang dilontaran oleh si gadis. Dia terhanyut dalam lamunan terbuai dalam misteri mimpi yang mungkin sudah menemukan jawaban. 

Mimpinya kembali menyalah terang. Dia ngebuka mata, hanya beberapa langka. Dia pindah kesisi gudang. Tepat disana pertama kali mas aly mengayunkan paculnya, mengubur kaos empunya gadis lugu itu. Yang selama hidupnya di jajah ibu tiri. Kasian.. 
                             ****

Semalam hujannya terik banget. Guys,  tanah jadi lembek dong, bak tape. memudahkan mas aly eksekusi, mas aly gak sendiri. Dia di temenin sang gadis pas banget ada di hadapannya. namu, mas aly gak e’ngeh. wajah si gadis pucat pasi. Usai sudah mas aly mengubur. Air mata gadis itu pun meleleh. Mas aly terpaku digundukan tanah. Seraya berucap; 

“selamat tinggal nak, akan aku jaga rahasia kematian mu hingga ku bawa mati. pergilah dengan damai, semoga kau tenang di alam sana” 

ritme suara pun tersirat kepedihan yang paling mendalam.  Enyah lah sang gadis, membawa pergi senyuman serta air mata. 
Peristiwa dalam mimpi mas aly semalam;
Gadis Malang itu meninggal bukan karana kelalayan atau keteledorannya. Disisi lain Ibu tiri memang benci banget sama si gadis itu. bukan karna kenakalannya. melainkan Si ibu angkat ini. ingin mengguasai Harta warisan. Hati kecilnya sudah tertutup uang, gelap mata. ibu tiri merengkuh nyawa sang gadis. Hingga tewas di dasar kolam renang. 

Dua Bulan kemudian.. 

Rumah teratai udah layak ditempatin tuh, (kalo lo mau nempatin gih sono) Rumah teratai udah gak ada gangguan mistis, perkarangan serta ruang pun udah bersih layaknya rumah yang ditempatin  orang bhobia debu. namun, rumah teratai tetap aja belum laku terjual.

                             ****

Nah, kita balik lagi ke suri dan bunda rodiah yang lagi otw ke rumah teratai. Sekejab! Mereka udah sampe Jakarta. Mereka menlanjutkan perjalanannya naik taksi guys, untuk mencari alamat rumah teratai. udah sejam lebih meraka muter-muter ibu kota. Nanya sana sini Dan akhirnya pencarian mereka gak sia-sia. si supir menginjak rem pas banget berhenti didepan gerbang. 

Rasa kangen suri sudah memuncak ingin dia ledakan dalam pelukan sang ayah. Suri langsung tuh, ngeloyor keluar dari taksi dan berdiri didepan gerbang. disusul bundanya mereka berdua berdiri sejajar. Bunda celingak celinguk cari bell… 

“Bun, bunda itu belnya” ucap suri sambil nunjuk ke sisi gerbang.
“Bunda, angkat suri dong, suri pengen mencet belnya” lanjut suri.

Sepontan bunda mengangkat suri dan bell berbunyi toilet… DEG! Mereka terperangah. 

“Bun, kok suara belnya aneh, ya. Coba ah, suri pencet agak lama” gumam suri sambil mesem-mesem. Bel pun berbunyi lagi toileeeeeeeeeeet.. 

Suara bell yang berbunyi begitu keras. gak di respon guys, sama sang ayah.  

Gara-gara bell itu Mereka menghabiskan waktu didepan gerbang dengan gelak tawa, selang lima menit gerbang belum terbuka. Bunda jengkel dong, langsung tuh dia teriak di sela-sela gerbang “ayaaaaaah”…

“Bun, Kayaknya itu gerbang. gak dikunci deh” terka salwa. 

Tanpa ragu bunda menarik gerbang kesamping. Gerbang terbuka. ternyata bener guys, yang diterka suri. Karna mas aly tahu, bahwa anak dan istrinya mau datang hari ini. Jadi gerbang gak dikunci seperti biasanya.

Mereka berdua merengsek masuk, bunda menutup gerbang dan suri melihat wajah seseorang yang dia rindui selama dua Bulan silam. Tepat berdiri di depan pintu. “Ayaaaaah” teriak suri seraya berlari menghampinya. Posisi mas aly setengah jongkok, sambil melebarkan kedua tangan bak sayap burung merpati. Dan Akhirnya suri  memecahkan rasa rindu yang amat sangat besar didalam pelukan sang ayah. 

Tobecontinue!! 

Dipart5 suri menerima kenyataan pahit dan petaka yang gak bisa dia elakan..

*sodorin artikel* jangan menjadi pembaca remang-remang. Jadilah Batu penatik. Tinggalin komentar en like. ​

Rumah teratai part3

Hey guys, kita flackback 2bulan silam dimana mas aly baru gawe di rumah teratai. 

Kala itu siang Guys, Awal mula mas aly nyambang kerumah teratai, dia dianterin sama sang paman untuk menuju TKP. tapi sesampainya disana, paman nyerahin konci rumah teratai begitu aja, Tanpa banyak basa-basi lagi. paman langsung tuh berlalu, ninggalin mas aly seorang diri.

Mas aly pun terdiam didepan gerbang yang setinggi monas. Gak ada hitungan detik. mas aly, menarik gerbang. otomatis gerbang terbuka dong, dia langsung merengsek masuk. Mas aly terpaku melilhat halaman seluas lapangan senayan. 

Tuh halaman Jember abisssss.. Banyak sampah daun kering en ranting pohon yang patah!!

Mas aly mulai berkeliling kehalaman rumah, matanya menyapu keadaan sekitar. Mas aly terus berjalan sampe kebelakang rumah. Langkahnya terhenti, dari arah kejauhan matanya melotot tajam melihat kolam renang bak telaga. Dia jalan lagi tuh,  kearah kolam renang yang gak terlalu jauh dari dia berhenti tadi. Sesampainya di tepi kolam renang.  DEGG! Jatung berdegup. Beliau fokusin pandangannya kearah kaos yang mengambang dipermukaan air. 
“HAH kaos, kaos siapa nih?” umpatnya. 

Posisi kaos ada di pinggir kolam, beliau setengah jongkok langsung menjambret kaos warna merah hati. FIX beliau berhasil, ngambil kaos yang entah empunya siapa, Beliau kembali ke posisi semula. Hati kecil beliau masih penasaran! tanpa aba-aba beliau ngelebarin kaos tersebut. ukurannya mini en gambarnya pun orang lagi sunat. Mana ada baju gambar orang lagi sunat? Emang gak ada guys, kita ganti aja, sama gambar princess!!..

Beliau ngebolak-balikin kaos ngeliat depan dan belakang, seraya beliau bilang “yang punya kaos ini pasti perempuan, seumuran dengan suri.”
Setengah jam dia menghabiskan waktu di bibir kolam renang, tanpa mikir yang macem-macem dia berjalan lagi sampai masuk kedalam rumah teratai. 

Pukul 10:34 PM lokasi: ruang utama. 
Tadi sore beliau cuma berkelililililing rumah dan dia juga melipir kekamar pembantu. Untuk ngejemur kaos gambar princes!!  yang masih belum jelas punya siapa. emang kebetulan diruangan itu ada tali tambang, buat ngejemur baju. yaudah mas aly gunain tuh tali, sebagai mana layaknya. beliau pun sore itu belum sempet gawe because, dia baru datang dari kampung otomatis masih cape dong, Mas aly cuma istirahat doang. 

10:34 PM. Mas aly lagi duduk santai tuh, sembari ngeroko diruang utama. Jadi semua ruangan itu kosong, gak ada barang sama sekali. cuma ada lampu penerang dikala Malang menjelang.
Ketika dia lagi menikmati roko nan duduk santai. Tiba-tiba Byurr!!!  Byurrr!!! Mas aly mendengar suara orang mandi ditoilet guys, gak jauh dari tempat dia duduk. Byurrr!! Byurr!!  Suara gayung semakin kenceng terdengar. mas aly shock dong, siapa yang mandi malem-malem toh, dirumah itu cuma ada mas aly doang, Mas aly kalut gak karuan, tapi penasaran.

Lama-lama, aly pun memberanikan diri, dia bangun tuh buat ngecek. Sebenernya dia gak terlalu penakut. Dia cuma mau memastikan keadaan aja. Sambil mengendap-ngendap, aly menghampiri toilet. Rupanya pintu toiletnya gak ditutup. Setengah terbuka gitu, guys. Suara air masih kedengeran. Aly makin penasaran, dong. Kalo pintunya kebuka, justru malah bikin dia gampang melihat dari luar. Aly bergidik ngeri. Sebenernya dia takut, tapi dia mau tau, siapa yang mandi tengah malam di toiletnya. Pokoknya aly penasaran abis!
Aly jalan perlahan menghampiri toilet. Dia nyembulin kepalanya kearah pintu. Anjritt!! Ternyata gak ada yang mandi, toilet pun kering total. Mas aly bingung sebingung, bingungnya orang bingung!  Lantas dari mana suara orang mandi tadi?  “Sudahlah mungkin ini hari apesnya meraka” gumamnya. mas aly meyakinkan dirinya kalo suara itu bukan ulah manusia. Seraya dia kembali lagi ke ruang utama.
Siang hari.. 

Kesraaak!!  Srek!! Aly lagi menyapu halaman.

Bel berbunyi dua kali telolet.. Mas aly ngeluyur kedepan gerbang, pas aly ngebuka gerbang ternyata pak RT guys, yang mencet bel.. 

“Siang mas” sapa RT

“Siang pak, ada perlu apa ya?  Tanya aly. 
“Saya minta foto copy identitas, karna anda warga Baru disini” kata RT
“Oh iya, ini pak” aly nyodorin foto copy ktp. 
Diterima tuh ktp aly, ktp pun diselipin dibuku yang sebiasanya rt gunain buat mencatat identitas warga.
“Oya mas, situ nunggu rumah teratai sendiri.? Wajah rt serius. 

“Iya pak, saya sendiri?” tutur aly
“HAH, situ gak takut?” rt kaget. 

“Takut? Takut apa maksud bapak?” aly sepik gak tahu, apa yang di makusd pak Rt.  Padahala semalam dia udah ngerasain hal yang janggalan. 
“Rumah tua itu sudah, emm!” rt nge-rem pembicaraannya. 

“Sudah apa sih pak? Saya jadi penasaran” aly semakin kepo. 
“Klo mas ingin tahu lebih banyak, tentang rumah ini. lebih baik kita bicarain di warkop yang ada diujung jalan” rt bicara panjang lebar! 
“Apa bedanya klo kita bicarain disini sama diwarkop” ucap aly. 

Pak rt deketin aly. lebih deket lagi,  pas banget dikupingnya. “Saya takut penghuni kasat mata mendengarkan pembicaraan kita” pak rt berbisik! 
Setelah berjalan beberapa lama, mereka pun mampir di warkop. Di sana mereka ngebahas soal rumah teratai itu. 
“maaf sebelumnya, saya bukan menakut-nakuti mas aly, mas tentu harus tahu seluk beluk rumah teratai itu” kata rt nada tegas. 
“Memang ada apa, dengan rumah itu, saya semakin penasaran? Tanya ali.

“Rumah yang mas tinggali sekarang, adalah rumah angker! Tiga Bulan silam rumah itu memakan korban. Korban tenggelam dikolam renang, hingga tewas!” pak rt menerangi panjang lebar. 

“Astaga!! Pantas. semalam ada suara orang mandi, ternyata suara mistis itu, bukan dari toilet melainkan dari..” gumam aly dalam benak. 

“Terus ciri-ciri korban?” rasa penasaran aly semakin full sekarang. 
“Korbannya anak gadis, yang masih duduk di kelas empat sd. Korban mengenakan kaos warna merah” pak rt mengusap leher yang mulai merinding.

DEGG!!  Jantung berdegup. aly shock banget! Jiwanya bergejolak hebat! Sampai tersungkur pingsan. 

Kamis malam..

Pukul 11:30 PM setting: rumah teratai. 

Kala itu ujan guys, mas aly tidur pulas, biasa tidurnya diruang utama. Nih malam ujannya juga terik banget! Berbarengan suara geluduk membahana.

Jendele ruang dapur pun ketabrak angin BRAAK! suaranya cetar banget. Saking tuh suara kenceng aly sampe bangun. Posisi aly tidur telentang matanya menatap langit-langit. “HAH ujan, Bagus lah biar gak mendengar suara, orang mandi lagi” ucap aly dalam benak. 

Aly mencoba memejamkan matanya untuk ngelanjutin tidur, Sampe beberapa menit aly mulai cemas, gak berhasil ngelanjutin tidurnya, dia ngebuka mata menatap langit-langit, Ujan semakin redah tinggal gerimis rintik-rintik. 

Byurrr byurrr!  DEGG! Jantung aly berdegup lagi.. Byurrr tolooong!! suaranya lirih. “Astaga! Gusti! Pasti arwah gadis itu” gumam aly. Dia langsung ngibrit kepojok ruangan utama.

Byurr tolong saya, suaranya lirih banget, kasian. Aly udah tau klo suara gadis itu. dari kolam renang, tepat dibelakang kamar pembantu. 

Dia meyakinkan dirinya kalau ada sesuatu dibalik kejanggalan ini. aly penasaran tapi takut. Dia pelan-pelan berjalan menuju dasar suara. sesampainya dikamar pembantu aly langsung merengsek masuk! Byurr tolong! Byurr tolong! Suara semakin jelas. aly brigidik ngeri..

Saking fokusnya sama suara tersebut, Dia lupa kalau kaos gadis itu, dia jemur diruangan pembantu. Jantung aly berdegup cepat!  Tubuhnya menggigil.

Jendelanya juga kecil kayak semacam pentilasi udara gitu. Dan jendela terobosan dari kolam renang. Posisi aly setengah jongkok sekarang, pas banget dibawah jendela. Dalam batin melantunkan ayat suci.

Aly perlahan-lahan berdiri dengan jiwa yang gugup, kedua tangan lebih dulu menggapai bibir jendela, disusul kepalanya, tanpa aba-aba dia ngelongok kearah kolam renang, dengan mata terpejam. Ketika aly ngebuka mata. DEG! jantung aly berdegup gak menentu. Weeeessssss! Pas banget dihadapan wajahnya, Skelebat kain putih terbang kearah loteng. 

Aly ngambil aba-aba mundur beberapa langkah, langsung lari ke ruang utama. Sesampainya disana dia merebahkan tubuhnya tengkurap. sesekali kepalanya ditutup bantal, matanya terpejam. Tapi selang beberapa sa’at suara aneh itu hilang, tak terdengar lagi. Perasaan aly agak tenang dan dia pun tertidur yang kedua kalinya. 

Tobecontinue!
NB: Tujuan gadis kasat mata itu apa sih? Arwahnya gak tenang banget! Pasti ada satu hal yang ingin gadis Malang itu sampaikan..