love the little girl

 

Mereka nyebutnya gang argabel karna hanya muat kendaraan roda dua dan kalau ada kendaraan dari arah berlawanan. Salah satunya harus mengalah. menarik pegas rem dan memiringkan kendaran mereka. Agar salah satunya dapat berjalan dengan lancar.

Gang itu panjang dan nggak terlalu lurus ada jalur akses menanjak keatas terobosan langsung kejalan raya. dipertengahan gang ada pertigaan sebiasanya ibu siti menjejer dagangannya disitu. 

Novil. anak dari ibu siti.  Gadis lugu dan terkenal periang di lingkungannya. Novy baru berumur tujuh tahun. Tinggal di rumah berukuran dua petak. Dia tinggal bersama ibu semata wayang. Ayahnya meninggal sejak novi masih di dalam kandungan. Bu siti ibu dari novy. Sehari-hari beliau berdagang di pertigaan gang. Setiap pagi menjelang beliau Menjejer kue yang beliau kelola sendiri.

“ibu, aku berangkat skolah dulu ya.” ucap novy dengan nada riang seraya mencium tangan ibunya.
“hati-hati ya sayang” tukas ibu siti

Tap…tap…tap suara langkah Novy menyusuri gang yang tak begitu besar. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari para pejalan kaki dan terkadang kendaraan roda dua yang berlalu lalang.  

Jarak sekolah memang nggak begitu jauh, hanya butuh lima menit gadis lugu itu sampai di sekolah.
Novy juga memiliki sahabat baik. Syifa anak dari bu sumintri sekaligus walikelas novy. Sebiasanya jika ibu siti sibuk membikin kue untuk berdagang. Novy sering di titipkan kepada walikelasnya itu.

Lima menit terlewat pesat bagai roket. Novy sudah duduk manis semanis wajahnya yang manis. Di dalam kelas cuma beberapa murid yang baru hadir. “Tumben syifa belum datang” gumamnya.

Syifa memang teman sebangku sejak mereka kelas 1 SDN. hati kecilnya novy terasa nggak enak. Dia berharap nggak ingin menerima kabar buruk tentang syifa.
Satu persatu murid-murid yang tadi belum datang sekarang sudah mengisi bangku kelas dalam waktu yang tak menentu. Jam dinding terpatri di depan kelas. Menunjukan pukul 07:00. Bell sekolah melengking tajam di daun telinga yang masih muda.

“Ya’tuhan kenapa dengan syifa? semoga nggak terjadi apa-apa.” gumamnya sekaligus harapannya dalam batin.

Novy mencoba menguatkan hatinya yang rapuh. Dia tahu pasti akan mendengar kabar buruk dari walikelasnya.

Gemelutuk sepatu Bu sumintri memasuki ruangan kelas. Murid-murid yang ada di area kelas  menyambutnya dengan suka cita, Tetapi beda dengan novy, dia memasang wajah penuh keresahan. Kecemasan.  
Setelah usai menyambut walikelas. Suara sepatu novy terdengar lagi. Tap…tap…tap novy menuju meja guru. Sesampainya disana novy terpekur, gadis mungil itu siapa mendengar jawaban yang akan dia tanyakan.

“bu syifa kok nggak masuk?!” tanya novy dengan nada pilu.

“syifa sakit nak” DEEG!!! Jantung novy berdegup cepat. Harapannya ga sesuai yang dia harapankan. 
“Ya’tuhan sakit apa bu?!” raut wajah novy semakin cemas. 

“demam sayang, pulang sekolah kita jenguk syifa ya.” novy mengangguk. mendengar pernyataan itu novy bergegas berjalan kebangku dan pelajaran dimulai

                                ***

Langit biru membentang luas, cahaya matahari mencoba menerobos masuk kesela-sela jendela. Seiring bel pelajaran terakhir melenguh panjang. 
“ibu novy pulang” ucap novy dengan nada riang yang berada di depan pintu.

Mendengar suara buah hatinya, beliau Langsung menghentikan pekerjaan yang sedari tadi membuat adonan kue. kemudian beliau berjalan menuju kedepan pintu dan menyambut buah hatinya dengan suka-cita.  

“eh, anak ibu udah pulang, tumben nggak main kerumah syifa?!” sepontan beliau mengangkat tubuh novy dan membawanya kedalam ruang tengah.

“syifa sakit bu” ucap novy dengan nada rendah.

“kamu nggak ngejenguk syifa, sayang?” tanya bu siti seraya menurunkan novy dari gendongannya.

“nanti sore aja bu, biar syifa istirahat dulu” jawab novy yang duduk di kursi meja makan. 
“Aiiih… anak ibu pengertian banget.” tutur ibu siti seraya mencium bertubi-tubi buah hatinya. Seakan puluhan tahun nggak bertemu. 
“bu boleh ya? aku bantuin bikin kue” tanya novy sembari mengaduk-aduk adonan kue yang ada dialtar meja. 

“ihhhh, anak ibu gaya. Emang kamu bisa?!”
“kan ada ibu. yang ngajarin aku bikin kue mancur.

“kue cucur. Sayang bukannya kue mancur”
Dan gelak-tawa terdengar diruangan tengah. Ponsel yang tadi beliau taruh di meja ruangan tamu, berdering. Kriiiiiingg! Beliau berjalan menuju keruangan tamu. Meninggalkan anak semata-wayang. Sesampai di situ beliau mengangkat ponsel yang masih berdering.  

“halo, bu siti?!” ucap si penelpon dan ternyata ibu sumintri walikelas novy.
“ada apa bu?!” tanya ibu siti

“ma’af ya, bu. saya belum bisa mengantar novy pulang.”
“maksud ibu apa?! jangan bercanda deh!” ibu siti memang mengenal walikelas novy gemar bercanda. 
“loh, kok bercanda. Itu novy lagi ngejenguk anak saya. novy sayang. sini nak, ibu kamu mau ngomong”

“bu, klo novy udah pulang. nanti novy bantuin bikin kue mancur” DEG!!! Mendengar suara anaknya di tempat yang berbeda. Beliau menutup mulut yang menganga dan alat yang beliau genggam jatuh diruang tamu. 
“bu, aku ingin bantu ibu bikin kue” Suara novy terdengar lagi di ruangan tengah. Suara mirip buah hatinya. Beliau nggak berani menoleh kebelakang dan terpaku di ruang tamu. Sambil mengusap pundak yang mulai merinding. Jiwanya terkoyak kedua kakinya kaku. “Ya’tuhan, novy ada dua pertanda apa dengan anakku” 
Tap… Tap… tap terdengar  suara langkah kaki  novy memecahkan kesunyian menuju bunda tercintanya. Tepat berhenti di belakangnya.

“aku ingin bantu ibu.” DEG! Jantung beliau berdegup cepat. Perlahan-lahan beliau memberanikan dirinya menoleh kearah belakang. HENING! HILANG! Novy nggak ada di belakang beliau nggak melihat lagi gadis lugu yang senantiasa menemaninya. Sendi-sendi ibu siti mengendur tubuhnya tersungkur.
Selang lima belas menit kemudian.

Novy. Anakku novy, beliau sadar ingin mencari tahu keadaan anaknya sekarang. Beliau berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya. Lalu meraih ponsel yang tergolek disampingnya untuk menghubungi walikelas novy.

“bu, saya saja menjemput novy” ucap bu siti dengan nada tergesah-gesah. 

“saya yang harus menjemput, ibu sekarang.” bu sumintri terisak.

“maksud ibu apa?!” ibu siti mencengkram ponselnya kuat-kuat.

“Ma’af ya bu, novy kecelakan sewaktu diantar pulang naik motor dengan ponakan saya” bu sumintri terisak suaranya terbata-bata.

“APAAAAA!!! Gimana keadaan anak saya sekarang bu?” Suara bu siti histeris, bibirnya menggigil.

“ibu yang tabah ya, ini cobaan dari maha kuasa. Novy sudah dipanggil sang pencipta”
dibawah lampu gantung yang meredup dan tertiup angin panas yang menyulut jiwanya, ibu siti, ibu tercinta novy terbanting di ruang utama.

Di penghujung gang ARGABEL

Di gang yang tak begitu semarak, di gang penuh coretan abstrak. Di gang itu cintanya tergeletak. Tak bisa mengelak, pasrah terinjak kenangan yang congkak. 


Di penghujung harapan semu. Ia menunggu kepastian yang dulu. Dahulu dia mengingatkan kalau cinta itu bukan suatu hal yang di rasa tetapi apa yang di terima. 

Wanita itu, wanita bermata bulat kecoklat-coklatan, wanita berkulit terang. Wanita berparas berseri-seri dan rambut hitam mengkilat di pangkas sebahu. 

“Ah, ingatan itu menyeretku lagi”

Sudah lama ia mengenalnya, sudah lama pula ia…

Ia menahan ucapan, tak pantas! Sepagi ini menggali kenangan yang terkubur di dalam liang harapan.

Namun, kenangan itu bak mayat hidup keluar dari dalam kubur memaksa untuk mengingat janji yang sudah melebur. 

Ia menerawang jauh, sesekali menyeruput teh hangat di dalam cangkir, ia pikir cinta tak mungkin berakhir. tapi takdir punya rencana lain, cinta yang menyingkir, kan ada pula cinta yang hadir.
Asap putih masih mengepul di atas cankir. Hawa panas ibarat rindu yang tak pernah tuntas.
Ia rindu dengan wanita yang memiliki bola mata coklat bulat sempurna. Yah, elin. Namanya yang sering ia panggil kala dulu. Ketika cinta masih bersahabat dengan mereka.

“Andai saja cinta dan rindu tidak di sepakatkan oleh tangan pertemuan, mungkin aku ga ingin bertemu dengannya lagi” di bangku kayu itu ia mulai berimajinasi. Sembari menunggu ponsel berdering. 

Pikiranya berkelana jauh mengulang semua rasa sakit yang tak terbayang di dalam cerita.

Ia mengangkat dagu mentap ke atas langit, Awan putih berlarian tersapu angin dari barat. Di gantikan awan hitam gelap pekat mengerubung jadi satu menutupi semburat cahaya mentari. Suara guntur terdengar dari arah ke jauhan.

Kilat menyambuk awan putih menjadi potongan-potongan kecil yang kekeh tak ingin pergi.  

Tak selang beberapa lama, gerimis tiris mulai turun. Membasahi perkarangan rumah yang tak begitu mewah. angin menampar dedaunan hingga mendesis lirih. 
“Walaupun hujan turun. Tetap saja rindu ini tetap kering dan tandus” gumamnya seraya ia beringsut dari tempat duduknya. Ia berdiri tepat di depan teras rumah, tangan kirinya mengenadah merasakan rinai hujan yang jatuh. Hujan dan cinta mungkin saudara kembar keduanya bisa membuat kesejukan. 
“Kriiing” ponsel yang ia taruh di saku clana jeans melenguh. Bergegaslah ia mengangkatnya. 

“Aku di beranda stasiun, tolong jemput aku”

“Ya!”
Sesimpel itu ia berbicara, tetapi mempunyai makna panjang yang tak mungkin sanggup ia ukur seorang diri. Ia melangkah di awalin kaki kiri kemudian di susul dengan kaki kanan. Ia menyusuri gang yang tak begitu besar, tubuhnya meliak-meliuk menghindari orang-orang yang berlarian. Memang tak begitu jauh Jarak stasiun dari rumahnya. Cuma memakan waktu lima belas menit.  

Hujan semakin deras ia menghalau hujan dengan payung rindu yang kasat mata. Ia terus menyusuri gang yang penuh coretan abstrak. Bahwasanya gang yang ia lalu ada trobosan langsung menuju stasiun.
Ia memincingkan tatapannya memandang lurus. Dari arah kejauhan ia melihat ada yang berlalulalang menerobos hujan, ada pun yang meneduh dengan wajah jenuh. di tingkahi hujan yang semakin gaduh.
Di depan gang matanya membola, mencari elin, kedua tangan mendekap tubuhnya yang menggigil. Dingin. Ia memperhatikan satu persatu wajah-wajah jenuh itu.

“Hey aku disini” 

Suara terikakan nyaring meling tidak asing di telinganya, suara yang sering ia dengar, Suara pengobral seribu janji, Asal suara terdengar di pojok loket karcis. Seketika Ia memalingkan padangannya kearah elin berdiri menyilangkan tangannya mendekap tas berwarna hitam pekat.  
Elin melekukkan bibir terlumur gincu merah puyas. Di dirinya semua masih sama tak ada yang berubah, ia melepar senyum sumringah, rindu yang sedari mengembang kini telah pecah.
“Ga ada yang berubah ya, dari kamu?!” elin membuka percakapan lebih dulu. 
“Iya, semuanya masih sama. ga ada yang berbeda termasuk cinta.”

“Apa cinta?!”

“Iya, aku tau kamu ga mungkin menarik cinta, cinta yang bersanding di hatiku”

Elin diam membisu seribu bahasa, menahan ucapan yang mewakili curahan hatinya.
“Kenapa diam?! Ayuk kita pulang, kita lanjutkan obrolan di rumah”
Elin mengangguk isarat tubuh mengiyakan ajakannya. Mereka berjalan beriringan, hati kecilnya masih menyimpan sesuatu yang ingin elin ledakan.
Hujan deras telah pergi, gerimis tiris serupa salju jatuh perlahan kedahan pohon yang tertanam di samping gang. Mereka berjalan sejajar ketika satu langkah lagi memasuki gang namun.

“Tunggu!” elin menarik pergelangan pria yang kuyup itu.

Mereka berhadapan sekarang tepat di samping gang di bawah pepohonan rindang.

Seketika Airmata elin berkaca-kaca, ia berupaya membendung airmata yang ingin meleleh di pipi. Tanpa aba-aba Elin memeluk dengan tangan yang lemah, Tangisan elin pecah di dalam pelukan. Hati kecil elin terisis mengingat janji yang belum elin gubris.
“Aku mengingkari janji, aku minta ma’af” air mata elin membasahi kemeja corak bergaris-garis.

“Cinta itu suci, aku ga ingin mengotori cinta dengan dendam, aku mema’afkan mu”

Mendengar ucapan itu Elin melepaskan dekapan, melepas pelukan. Elin mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

“Kamu sanggup menjemput cinta yang ku berikan, tapi?!”
Elin menahan ucapannya bibir yang di poles gincu mengigil. Air mata kembali melelah entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah di tanah.

“Tapi apa?! Katakan elin, aku siap menerima takdir yang tuhan berikan”

Elin menarik nafas dalam-dalam. Sesak dan menghembuskannya ke udara.
“Aku pernah bilang, kalau cinta itu bukan suatu hal yang di rasa tetapi apa yang sudah di terima ”

“Aku pergi”
Mereka pergi meninggalkan cinta yang tergeletak di depan gang. Mereka tak sanggup mengelak tergilas kenangan yang congkak. 

Rojak bujang jauh

Rojak. seorang bujang yang baru di terima kerja bagian farmasi. Siang itu, ia baru pulang interviw denganlincah ia mengendarai kendaraan roda dua.

Namun, petaka gak bisa terelakkan. Motor yang ia kendarai oleng. Hingga menabrak mobil truk dari arah

berlawanan. Craaaassss!. Motornya ringsek hampir rata dengan tanah.

Yang lebih na’asnya lagi. Perut rojak tergilas roda truk yang penuh muatan pasir. Kemeja putih yang ia

kenakan bercak jejak roda menggiling bagian perut. Cuma hitungan menit rojak terbangun langsung lari

kewarung pinggir jalan.

Sontak yang melihat tragedi itu terheran-heran. Si punya warung langsung memberi segelas air putih untuk

meredam debar jantungnya.

Peristiwa itu sudah lewat berhari-hari guys, rojak melewati hari seperti biasa tanpa Merasakan rasa sakit

sedikit pun. Ehm! *mungkin cuma layli yang bisa membuat rasa sakit di hatinya*

Bahkan rojak yang baru kerja bikin iri pada rekan kerjanya sebab. Rojak langsung naik jabatan, waktu itu

bosnya bertanya. “motornya kemana?” rojak menjawab  digiles mobil truk” peristiwa itu di ceritakan

lagi oleh rojak. Bosnya menggeleng-gelengkan kepalanya terheran-heran. “ajaib!! Pasti nih anak titisan

limbad!” kata bosnya.

Nah, awalnya doi gak merasakan sakit sedikit pun. Pasca kejadian itu lewat seminggu. Doi baru merasa

mual, nyeri, nyut-nyutan. Di bagian perut. Kadang dia menggeram hebat sambil memegang perutnya. Di

iringi muntah-muntah gitu lah. Pkoknya kesehatan rojak nge-drop abissss…

Suatu hari rojak di temukan pingsan di kamar. Sontak dong, ibunya kaget!!!. Ngeliat rojak ga berdaya gitu. Ga

pake mikir. beliau Langsung ngebawa anak semata mayangnya ke RS. Sesampainya di radiologi RS. Doi di

ronsen tuh guys, tepat di bagian perut yang kerasa sakit.

Lalu apa yang terjadi setelah hasilnya terlihat?.

Hasilnya membuat dokter yang menanganinya tercengang sejadi-jadinya.

Isi perut rojak udah hancur. Ginjalnya pecah. Lambungnya rusak parah. Bahkan ususnya udah menghitam

karna pembusukan itu. MENGERIKAN!!

Kalo oprasi tidak di lakukan rojak akan tewas”kata dokter

Sebulan kemudian…

Udah seminggu ini rojak bisa melakukan aktivitas. Tapi lagi-lagi petaka itu dateng. Rasa sakit dua kali lipat

dari sebelumnya. Membuat doi langsung tersungkur pingsan. Doi langsung di angkut ke RS.

Setelah di ronsen. Lagi-lagi hasilnya mengejutkan guys, isi perut doi malah makin parah pembusukannya.

Sontak rojak shock dong kedua kalinya.

“Kerusakannya terlalu parah. Ini sama seperti kasus luka di kaki pada penderita diabetes. Solusinya

amputasi. Itu tak mungkin kita lakukan …jika kerusakannya ada di area perut. Saya benar-benar tidak paham.

Belum pernah saya menjumpai infeksi separah ini pada organ dalam.” Kata dokter.

Operasi kedua bahkan ketiga kalinya di jalankan staf dokter tapi hasilnya nihil. Kondisi rojak semakin hari

semakin memperhatinkan. Kerjanya setiap hari cuma merintih dan merintih. Kesakitan.

Entah apa dosanya sampe di beri cobaan seberat itu.

“bu…sakit bu, mending rojak di panggil tuhan aja. Daripada sakit kayak gini” rojak terbaring di ruang ICU.

ibunya nangis mendengar omongan anaknya kayak gitu. “rojak, coba kamu Inget-ingat. kamu pernah

ngelakuin dosa apa? Mungkin bisa membantu kesembuhan mu.” rojak diam. Gak Inget sama sekali. Lagi-lagi

dia hanya merintih. Sepanjang waktu yang dia lewatkan hanya syakaratulmaut.

Dalam kondisi seperti itu di jabut nyawa bakalan seribu lebih baik dari pada bertahan. Tapi tuhan gak mengizinkan. Rojak di biarkan tersiksa.

3 hari kemudian, rojak masih bertahan, guys. Bertahan dalam kesakitan yang ga bisa dijelasin sama kata-kata. Semua keluarganya berkumpul disitu. Tiap hari mereka memanjatkan doa buat rojak Bukan buat kesembuhannya, melainkan buat meminta izin-Nya supaya ia berpulang dengan tenang. Ini manusiawi, guys.

Siapa yg tega melihat orang yang kita sayangi tersiksa sepanjang hari? Begitulah kondisi rojak.

Singkat cerita, suatu hari keluarga rojak sepakat untuk menyuntik mati rojak (euthanasia), dan rojak pun setuju.

Tapi apa yg terjadi? Racun pembunuh itu ga bekerja sama sekali. Rojak malah dibuat semakin kesakitan.

Sontak dong, semuanya dibuat kaget. Ga terkecuali dokter sama perawat. Semua dibikin ga percaya sama apa yang mereka lihat. Selama berjam-jam rojak dibuat makin kesakitan. Kasihan… Ini pasti ada yg ga beres.

Apa yang pernah dilakuin rojak sampe harus mendapat hukuman seperti itu, padahal dia anak baik-baik? Ga ada yg tahu.

Nah, beberapa jam kemudian, ketika doa2 masih terpanjat buat rojak datanglah teman lama rojak menjenguknya. Dia didampingi seseorang. Namanya pay. Dia ditemenin sama orang yang udah cukup uzur.

Orang tua itu mendekati rojak berbaring di ruang ICU “rojak, masih ingat bapak?” Tanyanya. Rojak

menggelengkan kepalanya. Dia masih merintih hebat. “Maafkan kehadiran saya jika menganggu bapak dan

ibu-ibu semuanya…” Kata org itu lg. “6 tahun lalu, rojak pernah mendatangi saya untuk memasangkan susuk

di tubuhnya. Mungin ini yg membuatnya menderita seperti ini…” sekarang saya akan melepas susuknya.

Mudah-mudahan ini akan mengakhiri penderitaan rojak.” Katanya lagi. Ibunya rojak bengong.

“Susuk? Buat apa anak saya pasang susuk, pak?” Tanya ibunya rojak. “Dulu rojak suka ikut balapan liar, bu.

Saya yang mengantarnya.” Jwb temen rojak “Astaghfirullah.. Betul itu, rojak?” Tanya ibunya. Rojak

mengangguk. Akhirnya dia ingat semuanya. Rojak pun menangis kerung. Ga mau buang waktu, orang tua itu

mengambil posisi. Dia mengelus-ngelus perut rojak perlahan. Mulutnya komat kamit, seperti membacakan

mantera. Semua yang menyaksikan adegan itu terlihat tegang. Apa ini akan berhasil? Benarkah susuk itupenyebab penderitaan rojak

Orang tua itu terlihat seperti mencabut sesuatu dari perut dan kepala rojak. Dua kali. Mungkin susuk kebal yang

di maksud. “Bapak sudah mencabut semua susukmu. Kamu beristirahatlah dgn tenang.” Tutup orang tua itu.

Dia mengelus dahi rojak. Trnyata benar. Ga kurang dari 40 detik kemudian, rojak pun meregang nyawa. Berkat

orang tua itu, akhirnya rojak menghebuskan nafasnya yang terakhir. Penderitaan rojak berakhir. Kepergiannya

tentu aja disambut isak tangis semua orang. Mudah-mudahan semua dosa-dosanya di ampuni. Amiin…–end

Pesan moral: Susuk ternyata lebih berbahaya dari operasi plastik. Tapi jauhi keduanya. Tanpa susuk & plastik, kamu lebih manusiawi. 

Rumah teratai part4

Aly ngambil aba-aba mundur beberapa langkah, langsung lari ke ruang utama. Sesampainya disana dia merebahkan tubuhnya tengkurap. sesekali kepalanya ditutup bantal, matanya terpejam. Tapi selang beberapa sa’at suara aneh itu hilang, tak terdengar lagi. Perasaan aly agak tenang dan dia pun tertidur yang kedua kalinya. 

Part4…

Pagi hari..kukuruyuk! Ayam jantan tetangga melenguh. 

aly terbelalak matanya mentatap langit-langit yang dihiasi lampu panjang membentang diatas atap. Nafasnya memacu cepat, debar jantung berdegup hebat. “Astaga! mimpi itu” umpatnya. Posisi aly duduk sekarang, dia mengambil air mineral setengah botol yang bekas dia minum semalam. Glek~glek Air mineral di minum lagi untuk meredam perasaan yang di tingkahi mimpi.

Mimpi na’as itu memutar rekaman yang masih terselipi di memory ingatan, tiba-tiba airmata aly menetes Tangisan pun hening, jiwanya bergejolak bibirnya bergetar. “Ya’tuhan, semoga takdir yang kau takdirkan hanya kau anugrahi untuk gadis lugu itu” Aly memanjatkan doa. telapak tangan menyibak airmata yang meleleh.

Aly berjalan gontai kearah kamar pembantu dengan kepala setengah merunduk. Kali ini Yang dia rasakan bukan suasana seram atau mencekam melainkan rasa haru yang berkecamuk.
Sesampainya disana aly termagu dimuka pintu, dia menatap kaos yang sering gadis itu kenakan. Matanya berkaca-kaca menahan airmata yang mengembang, Bibirnya bergetar. Aly langusng merengsek masuk, jemarinya mengambil kaos yang menggantung. 

kaos gadis itu  dibenamkan tepat didadanya, airmata mulai pecah isak tangis mengisi ruang yang sunyi. kepalanya merunduk, sesekali menggeleng-gelengkan kepala menandakan tak sanggup apa yang di rasakan dalam mimpi itu.

“Kejam, sungguh kejam” gumamnya dia berjalan lagi tuh, kearah gudang yang ada dibelakang rumah. sesampainya disana dia, mengambil pacul yang terhimpit barang-barang bekas. Di depan gudang dia terpekur seraya memejamkan matanya mengingat ulang pesan yang dilontaran oleh si gadis. Dia terhanyut dalam lamunan terbuai dalam misteri mimpi yang mungkin sudah menemukan jawaban. 

Mimpinya kembali menyalah terang. Dia ngebuka mata, hanya beberapa langka. Dia pindah kesisi gudang. Tepat disana pertama kali mas aly mengayunkan paculnya, mengubur kaos empunya gadis lugu itu. Yang selama hidupnya di jajah ibu tiri. Kasian.. 
                             ****

Semalam hujannya terik banget. Guys,  tanah jadi lembek dong, bak tape. memudahkan mas aly eksekusi, mas aly gak sendiri. Dia di temenin sang gadis pas banget ada di hadapannya. namu, mas aly gak e’ngeh. wajah si gadis pucat pasi. Usai sudah mas aly mengubur. Air mata gadis itu pun meleleh. Mas aly terpaku digundukan tanah. Seraya berucap; 

“selamat tinggal nak, akan aku jaga rahasia kematian mu hingga ku bawa mati. pergilah dengan damai, semoga kau tenang di alam sana” 

ritme suara pun tersirat kepedihan yang paling mendalam.  Enyah lah sang gadis, membawa pergi senyuman serta air mata. 
Peristiwa dalam mimpi mas aly semalam;
Gadis Malang itu meninggal bukan karana kelalayan atau keteledorannya. Disisi lain Ibu tiri memang benci banget sama si gadis itu. bukan karna kenakalannya. melainkan Si ibu angkat ini. ingin mengguasai Harta warisan. Hati kecilnya sudah tertutup uang, gelap mata. ibu tiri merengkuh nyawa sang gadis. Hingga tewas di dasar kolam renang. 

Dua Bulan kemudian.. 

Rumah teratai udah layak ditempatin tuh, (kalo lo mau nempatin gih sono) Rumah teratai udah gak ada gangguan mistis, perkarangan serta ruang pun udah bersih layaknya rumah yang ditempatin  orang bhobia debu. namun, rumah teratai tetap aja belum laku terjual.

                             ****

Nah, kita balik lagi ke suri dan bunda rodiah yang lagi otw ke rumah teratai. Sekejab! Mereka udah sampe Jakarta. Mereka menlanjutkan perjalanannya naik taksi guys, untuk mencari alamat rumah teratai. udah sejam lebih meraka muter-muter ibu kota. Nanya sana sini Dan akhirnya pencarian mereka gak sia-sia. si supir menginjak rem pas banget berhenti didepan gerbang. 

Rasa kangen suri sudah memuncak ingin dia ledakan dalam pelukan sang ayah. Suri langsung tuh, ngeloyor keluar dari taksi dan berdiri didepan gerbang. disusul bundanya mereka berdua berdiri sejajar. Bunda celingak celinguk cari bell… 

“Bun, bunda itu belnya” ucap suri sambil nunjuk ke sisi gerbang.
“Bunda, angkat suri dong, suri pengen mencet belnya” lanjut suri.

Sepontan bunda mengangkat suri dan bell berbunyi toilet… DEG! Mereka terperangah. 

“Bun, kok suara belnya aneh, ya. Coba ah, suri pencet agak lama” gumam suri sambil mesem-mesem. Bel pun berbunyi lagi toileeeeeeeeeeet.. 

Suara bell yang berbunyi begitu keras. gak di respon guys, sama sang ayah.  

Gara-gara bell itu Mereka menghabiskan waktu didepan gerbang dengan gelak tawa, selang lima menit gerbang belum terbuka. Bunda jengkel dong, langsung tuh dia teriak di sela-sela gerbang “ayaaaaaah”…

“Bun, Kayaknya itu gerbang. gak dikunci deh” terka salwa. 

Tanpa ragu bunda menarik gerbang kesamping. Gerbang terbuka. ternyata bener guys, yang diterka suri. Karna mas aly tahu, bahwa anak dan istrinya mau datang hari ini. Jadi gerbang gak dikunci seperti biasanya.

Mereka berdua merengsek masuk, bunda menutup gerbang dan suri melihat wajah seseorang yang dia rindui selama dua Bulan silam. Tepat berdiri di depan pintu. “Ayaaaaah” teriak suri seraya berlari menghampinya. Posisi mas aly setengah jongkok, sambil melebarkan kedua tangan bak sayap burung merpati. Dan Akhirnya suri  memecahkan rasa rindu yang amat sangat besar didalam pelukan sang ayah. 

Tobecontinue!! 

Dipart5 suri menerima kenyataan pahit dan petaka yang gak bisa dia elakan..

*sodorin artikel* jangan menjadi pembaca remang-remang. Jadilah Batu penatik. Tinggalin komentar en like. ​

Rumah teratai part3

Hey guys, kita flackback 2bulan silam dimana mas aly baru gawe di rumah teratai. 

Kala itu siang Guys, Awal mula mas aly nyambang kerumah teratai, dia dianterin sama sang paman untuk menuju TKP. tapi sesampainya disana, paman nyerahin konci rumah teratai begitu aja, Tanpa banyak basa-basi lagi. paman langsung tuh berlalu, ninggalin mas aly seorang diri.

Mas aly pun terdiam didepan gerbang yang setinggi monas. Gak ada hitungan detik. mas aly, menarik gerbang. otomatis gerbang terbuka dong, dia langsung merengsek masuk. Mas aly terpaku melilhat halaman seluas lapangan senayan. 

Tuh halaman Jember abisssss.. Banyak sampah daun kering en ranting pohon yang patah!!

Mas aly mulai berkeliling kehalaman rumah, matanya menyapu keadaan sekitar. Mas aly terus berjalan sampe kebelakang rumah. Langkahnya terhenti, dari arah kejauhan matanya melotot tajam melihat kolam renang bak telaga. Dia jalan lagi tuh,  kearah kolam renang yang gak terlalu jauh dari dia berhenti tadi. Sesampainya di tepi kolam renang.  DEGG! Jatung berdegup. Beliau fokusin pandangannya kearah kaos yang mengambang dipermukaan air. 
“HAH kaos, kaos siapa nih?” umpatnya. 

Posisi kaos ada di pinggir kolam, beliau setengah jongkok langsung menjambret kaos warna merah hati. FIX beliau berhasil, ngambil kaos yang entah empunya siapa, Beliau kembali ke posisi semula. Hati kecil beliau masih penasaran! tanpa aba-aba beliau ngelebarin kaos tersebut. ukurannya mini en gambarnya pun orang lagi sunat. Mana ada baju gambar orang lagi sunat? Emang gak ada guys, kita ganti aja, sama gambar princess!!..

Beliau ngebolak-balikin kaos ngeliat depan dan belakang, seraya beliau bilang “yang punya kaos ini pasti perempuan, seumuran dengan suri.”
Setengah jam dia menghabiskan waktu di bibir kolam renang, tanpa mikir yang macem-macem dia berjalan lagi sampai masuk kedalam rumah teratai. 

Pukul 10:34 PM lokasi: ruang utama. 
Tadi sore beliau cuma berkelililililing rumah dan dia juga melipir kekamar pembantu. Untuk ngejemur kaos gambar princes!!  yang masih belum jelas punya siapa. emang kebetulan diruangan itu ada tali tambang, buat ngejemur baju. yaudah mas aly gunain tuh tali, sebagai mana layaknya. beliau pun sore itu belum sempet gawe because, dia baru datang dari kampung otomatis masih cape dong, Mas aly cuma istirahat doang. 

10:34 PM. Mas aly lagi duduk santai tuh, sembari ngeroko diruang utama. Jadi semua ruangan itu kosong, gak ada barang sama sekali. cuma ada lampu penerang dikala Malang menjelang.
Ketika dia lagi menikmati roko nan duduk santai. Tiba-tiba Byurr!!!  Byurrr!!! Mas aly mendengar suara orang mandi ditoilet guys, gak jauh dari tempat dia duduk. Byurrr!! Byurr!!  Suara gayung semakin kenceng terdengar. mas aly shock dong, siapa yang mandi malem-malem toh, dirumah itu cuma ada mas aly doang, Mas aly kalut gak karuan, tapi penasaran.

Lama-lama, aly pun memberanikan diri, dia bangun tuh buat ngecek. Sebenernya dia gak terlalu penakut. Dia cuma mau memastikan keadaan aja. Sambil mengendap-ngendap, aly menghampiri toilet. Rupanya pintu toiletnya gak ditutup. Setengah terbuka gitu, guys. Suara air masih kedengeran. Aly makin penasaran, dong. Kalo pintunya kebuka, justru malah bikin dia gampang melihat dari luar. Aly bergidik ngeri. Sebenernya dia takut, tapi dia mau tau, siapa yang mandi tengah malam di toiletnya. Pokoknya aly penasaran abis!
Aly jalan perlahan menghampiri toilet. Dia nyembulin kepalanya kearah pintu. Anjritt!! Ternyata gak ada yang mandi, toilet pun kering total. Mas aly bingung sebingung, bingungnya orang bingung!  Lantas dari mana suara orang mandi tadi?  “Sudahlah mungkin ini hari apesnya meraka” gumamnya. mas aly meyakinkan dirinya kalo suara itu bukan ulah manusia. Seraya dia kembali lagi ke ruang utama.
Siang hari.. 

Kesraaak!!  Srek!! Aly lagi menyapu halaman.

Bel berbunyi dua kali telolet.. Mas aly ngeluyur kedepan gerbang, pas aly ngebuka gerbang ternyata pak RT guys, yang mencet bel.. 

“Siang mas” sapa RT

“Siang pak, ada perlu apa ya?  Tanya aly. 
“Saya minta foto copy identitas, karna anda warga Baru disini” kata RT
“Oh iya, ini pak” aly nyodorin foto copy ktp. 
Diterima tuh ktp aly, ktp pun diselipin dibuku yang sebiasanya rt gunain buat mencatat identitas warga.
“Oya mas, situ nunggu rumah teratai sendiri.? Wajah rt serius. 

“Iya pak, saya sendiri?” tutur aly
“HAH, situ gak takut?” rt kaget. 

“Takut? Takut apa maksud bapak?” aly sepik gak tahu, apa yang di makusd pak Rt.  Padahala semalam dia udah ngerasain hal yang janggalan. 
“Rumah tua itu sudah, emm!” rt nge-rem pembicaraannya. 

“Sudah apa sih pak? Saya jadi penasaran” aly semakin kepo. 
“Klo mas ingin tahu lebih banyak, tentang rumah ini. lebih baik kita bicarain di warkop yang ada diujung jalan” rt bicara panjang lebar! 
“Apa bedanya klo kita bicarain disini sama diwarkop” ucap aly. 

Pak rt deketin aly. lebih deket lagi,  pas banget dikupingnya. “Saya takut penghuni kasat mata mendengarkan pembicaraan kita” pak rt berbisik! 
Setelah berjalan beberapa lama, mereka pun mampir di warkop. Di sana mereka ngebahas soal rumah teratai itu. 
“maaf sebelumnya, saya bukan menakut-nakuti mas aly, mas tentu harus tahu seluk beluk rumah teratai itu” kata rt nada tegas. 
“Memang ada apa, dengan rumah itu, saya semakin penasaran? Tanya ali.

“Rumah yang mas tinggali sekarang, adalah rumah angker! Tiga Bulan silam rumah itu memakan korban. Korban tenggelam dikolam renang, hingga tewas!” pak rt menerangi panjang lebar. 

“Astaga!! Pantas. semalam ada suara orang mandi, ternyata suara mistis itu, bukan dari toilet melainkan dari..” gumam aly dalam benak. 

“Terus ciri-ciri korban?” rasa penasaran aly semakin full sekarang. 
“Korbannya anak gadis, yang masih duduk di kelas empat sd. Korban mengenakan kaos warna merah” pak rt mengusap leher yang mulai merinding.

DEGG!!  Jantung berdegup. aly shock banget! Jiwanya bergejolak hebat! Sampai tersungkur pingsan. 

Kamis malam..

Pukul 11:30 PM setting: rumah teratai. 

Kala itu ujan guys, mas aly tidur pulas, biasa tidurnya diruang utama. Nih malam ujannya juga terik banget! Berbarengan suara geluduk membahana.

Jendele ruang dapur pun ketabrak angin BRAAK! suaranya cetar banget. Saking tuh suara kenceng aly sampe bangun. Posisi aly tidur telentang matanya menatap langit-langit. “HAH ujan, Bagus lah biar gak mendengar suara, orang mandi lagi” ucap aly dalam benak. 

Aly mencoba memejamkan matanya untuk ngelanjutin tidur, Sampe beberapa menit aly mulai cemas, gak berhasil ngelanjutin tidurnya, dia ngebuka mata menatap langit-langit, Ujan semakin redah tinggal gerimis rintik-rintik. 

Byurrr byurrr!  DEGG! Jantung aly berdegup lagi.. Byurrr tolooong!! suaranya lirih. “Astaga! Gusti! Pasti arwah gadis itu” gumam aly. Dia langsung ngibrit kepojok ruangan utama.

Byurr tolong saya, suaranya lirih banget, kasian. Aly udah tau klo suara gadis itu. dari kolam renang, tepat dibelakang kamar pembantu. 

Dia meyakinkan dirinya kalau ada sesuatu dibalik kejanggalan ini. aly penasaran tapi takut. Dia pelan-pelan berjalan menuju dasar suara. sesampainya dikamar pembantu aly langsung merengsek masuk! Byurr tolong! Byurr tolong! Suara semakin jelas. aly brigidik ngeri..

Saking fokusnya sama suara tersebut, Dia lupa kalau kaos gadis itu, dia jemur diruangan pembantu. Jantung aly berdegup cepat!  Tubuhnya menggigil.

Jendelanya juga kecil kayak semacam pentilasi udara gitu. Dan jendela terobosan dari kolam renang. Posisi aly setengah jongkok sekarang, pas banget dibawah jendela. Dalam batin melantunkan ayat suci.

Aly perlahan-lahan berdiri dengan jiwa yang gugup, kedua tangan lebih dulu menggapai bibir jendela, disusul kepalanya, tanpa aba-aba dia ngelongok kearah kolam renang, dengan mata terpejam. Ketika aly ngebuka mata. DEG! jantung aly berdegup gak menentu. Weeeessssss! Pas banget dihadapan wajahnya, Skelebat kain putih terbang kearah loteng. 

Aly ngambil aba-aba mundur beberapa langkah, langsung lari ke ruang utama. Sesampainya disana dia merebahkan tubuhnya tengkurap. sesekali kepalanya ditutup bantal, matanya terpejam. Tapi selang beberapa sa’at suara aneh itu hilang, tak terdengar lagi. Perasaan aly agak tenang dan dia pun tertidur yang kedua kalinya. 

Tobecontinue!
NB: Tujuan gadis kasat mata itu apa sih? Arwahnya gak tenang banget! Pasti ada satu hal yang ingin gadis Malang itu sampaikan.. 

Rumah teratai part2

Kita pindah kesisi lain, sebut aja bunda rodiah *disamarkan* Beliau bunda tercintanya suri. Penjual lontong sayur didaerahnya. Bunda rodiah juga memiliki penyakit vertigo. Klo penyakit vertigo kumat suri lah yang menjadi bantalan bunda tercintanya. Udah dua Bulan lebih. mas aly, ninggalin keluarga yang sangat harmonis demi memenuhi ekonomi, udah dua Bulan ini rumah jadi sepi nan hening. Nah, klo lagi sepi kayak gini tentu lah suri andalan bundanya untuk meramaikan suasana. 
O’clok: 21:30 PM lokasi: ruang utama. 
Suri lagi asik baca buku pelajaran yang digemarinya padahal skarang, udah memasuki masa libur sekolah. Yep, suri memang beda dengan bocah yang lain karna cita-cita suri, suci guys, ingin menjadi dokter untuk menyembuhkan penyakit vertigo yang didera oleh bunda tercintanya (Indah ya, cita-cita suri saking sayangnya tuh, kepada orang tua.) slesai baca buku, suri berjalan menuju bundanya yang lagi rebahan dikamar, sesampai disana suri duduk ditepi ranjang.

“Bunda” sapa suri. Gak ada hitungan menit bunda membuka mata. 

“Iya, nak ada apa? ” jawab bunda mentap Putri semata wayangnya itu. 

“Kok tumben, bunda gak bikin lontong untuk jualan besok, apa mungkin vertigo bunda kumat?” tanya suri panjang lebar. 

Bunda terdiam, gak menjawab pertanyaan suri. Kemudian bunda bangun dan berdiri persis didepan suri yang duduk ditepi ranjang.

“Bunda kenapa gak menjawab pertanyaan suri, suri membuat bunda jengkel lagi, ya.?” ucap suri 

Bunda cuma mesem-mesem sembari menatap suri, spontan bunda langusung menggendong suri sambil mencium pipi kanan dan kiri.

“Bunda kenapa sih?” tanya suri

“Kamu kangen kan sama ayah?” ucap bunda masih menggendong suri. 

“Suri kangen ayah, kangeeeen banget. Suri ingin memeluk ayah” ucap suri. 

“Klo begitu, besok kita ketempat ayah” kata bunda. Sambil menurunkan suri. 

“HAH, asiiiiiikkk!! Makasih ya, bunda” riang suri, suri gak sanggup menahan airmata kebahagiaan, airmata pun meleleh dengan reflek suri mengusapnya. 

“Ywdh, kamu tidur sana nak, udah malam tuh” suruh bunda, menunjuk jam dinding terpatri 

“Baiklah bunda, met malem bunda” ucap suri seraya berjalan menuju kamar, suri merubuhkan diri dikasur, tidur telentang mata yang bulat dan bulu Mata yang lentik menatap langit-langit. Suri bilang “pasti ayah minta oleh-oleh, mau Kasih apa ya, yang gak bermateri. Tapi berharga untuknya?” Pikiran suri pun berkelana. Selang 2menit *tingg* “oia, oleh-oleh untuk ayah, aku Kasih aja kertas ulangan aku yang dapet nilai 6,5” stelah mendapat ide, suri menarik selimut, sampai menutupi leher dan mata pun lamat-lamat terpejam. 

                          ******

Pagi hari.. 

Suri udah siap tuh, bersua dengan sang ayah, untuk memecahkan rasa kangen yang slama dua Bulan silam dipikul sendiri. Penampilan suri gak neko-neko sperti biasanya bocah seumurannya guys, dia pun gak lupa membawa kaos pengganti. Yang udah tertata rapih. didalam tas yang biasanya dia gunakan untuk pergi ke sekolah. 

“suriiiii” panggil bunda yang berada diruang utama. 

“Iyaa, bunda” sahut suri langsung ngeloyor keluar kamar, tepat berhenti didepan bundanya. 

“Kamu sudah siap nak?” tanya bunda sambil mentap suri. 

“Aku udah siap bunda” bales suri. 

Bunyi dering sms toilet.. Bunda ngebuka sms tersebut. isinya alamat rumah teratai yang dikirim oleh sang suami. Bener guys, mereka baru pertama kali nyambang kerumah teratai. Bunda masukin lagi tuh, gejetnya kedalam tas. 

“Ayuk sayang kita berangkat” ajak bunda. Menggenggam jemari suri. 

“Eh, sebentar bunda. Aku lupa sesuatu.” suri melepaskan genggaman. Seraya berjalan menuju kamar, suri celingak-celingak matanya menyapu seisi ruangan . “Aku taro dimana ya, tadi.” gumam suri sambil mencari kesana kesini.  “Suri cepet, nak.” ucap bunda yang mematung diruang utama. “Iya bunda, sebentar.” kata suri masih mencari sesuatu yang dia belum temukan. Suri ngelirik kearah rak buku yang sejajar ranjang. “Nah, itu dia kertas ulangnnya” gumam suri lagi. Langsung tuh dia ngambil kertas ulangan yang terselip diantara buku pelajaran. Tanpa aba-aba dia ngeloyor keluar kamar nyamperin sang bunda yang udah menunggu di ruang utama. 

“Itu kertas apa suri?” kepo bunda.

“Kertas ulangan aku. Oleh-oleh untuk ayah, nilainya buruk bunda 6,5” penegasaan suri. Sembari masukin kertas ulangan kedalam tas ransel.

“Itu pasti ulangan IPA” bunda tersenyum. 

“Lah kok bunda tahu sih? padahal bunda kan belum aku Kasih tahu, tentang kertas ulangan ini” suri bingung.

“Bunda pasti tahu, kekurangan dan kelebihan anak bunda yang paling bunda sayang.” kata bunda. Serta mengusap-usap pipi suri. Setelah itu bunda merangkul tangan suri sambil berjalan kemuka pintu. Bunda pun mengocek saku mencari konci rumah. *cekrek* pintu pun tertutup sempurna dan mereka pun beranjak pergi sambil bergandengan tangan. 

To be continue.. 

Dipart TIGE (tiga) kita flashback ya, gimana reaksi ayah suri, baru pertama kali gawe di rumah teratai. Desas desus warga katanya sih angker. Hih, SEREM!! 

NB: Jangan lupa ninggalin jejak. Like en komentar. see you! 

Rumah teratai part1

kejadian ini udah lama banget guys, tahun 1998. WA. IG. BBM. COC. belum bisa didownload. Terompet telolet pun belum bisa lo denger sperti di era skarang.

Part1.

Suri. bocah yang masih duduk dibangku kelas 5 SDN andalus. Walaupun masih bocah tetapi sifat kedewasaanya melebihi teman-teman sebayanya. Si gadis ini masih lugu, lucu dan syaang beud!!! sama orangtuanya melebihi apapun.

Sebut aja Mas aly ayah si gadis lugu itu guys, mas aly ini gawe di Jakarta, jaga rumah kosong. Yang belum laku terjual. Padahal rumah teratai ada didaerah kompleks yang favorit di lingkupnya. Entah kenapa? rumah tua itu udah 2tahun kosong. tercampakan, amburadul, compang-camping. Altar keramik, Jendele semua berdebu dan air kolam renang bukan bening lagi guys, melainkan warna ijo tua. banyak lumut liar disisi kolam renang. Tapi setelah pak aly gawe disitu selama dua Bulan *cling* tuh rumah teratai bersih guys, gak diragukan lagi pekerjaan mas aly membawa hasil yang maksimal. 

To be continue !!

Jangan menjadi pembaca gelap, tinggalin kometar en like. Klo mau gw lanjutin cerita misteri part2.​